Kamis, 01 Desember 2011

pendidikan

Tuesday, December 27, 2005

Guru, elemen yang terlupakan

Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.

Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.

Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.

Kamis, 17 November 2011

Rawon Nguling Andalan Kota Malang

Rawon Nguling, Andalan kota Malang

Berbicara tentang Malang tak akan lengkap jika tak menyebut wisata kulinernya. Ya, Malang penuh dengan makanan andalan yang tentu saja membuat siapapun yang berada di kota ini ingin kembali lagi untuk menikmati sajian yang memuaskan lidah penikmatnya.
Salah satu tempat kuliner di Malang yang selalu didatangi pengunjung adalah Rawon Nguling, yang terletak tak jauh dari alun-alun kota Malang. Apalagi kalau bukan karena rasa rawonnya yang super mantap. Panas atau hujan tak menjadi kendala ketika lidah ingin mencicipi masakan yang berwarna kecoklatan ini.

Berikut parade makanan yang kita pesan sewaktu kunjungan ke Rawon Nguling beberapa saat yang lalu.

Rawon, tentu saja masakan ini wajib untuk di pesan. Masakan ini dibagi menjadi dua kategori (ceile… pakai kategori  hehehe) yaitu : Rawon dengkul dan rawon biasa. Rawon apapun yang di hidangkan rumah makan ini rasanya nendang abis, bikin lidah berputar-putar tak henti antara menyeruput kuah dan merasakan paduan bumbu-bumbu yang nikmat.
Perlu diingat, rawon dengkul ini menurutaku cukup banyak mengandung kolesterol, jadi bagi anda yang mempunyai kolesterol tinggi, sebaiknya menyantap rawon yang biasa saja yaitu rawon daging. Tetapi rawon dengkul ini sangat sayang untuk di lewatkan begitu saja, menurutku rasanya luar biasa nikmat. Jadi pilihan di tangan anda, mau rawon dengkul atau rawon daging, dua-duanya membuat ketagihan.

Menu selanjutnya adalah nasi lodeh pecel. Kembali lidah dibuat berayun-ayun merasakan sensasi nikmatnya paduan bumbu pecel dan sayur lodeh. Menu ini juga merupakan menu andalan rumah makan ini. sayur lodeh adalah sayur dengan kuah bersantan khas Jawa Timur dan Jawa Tengah.  Jika mau pesan extra sayur lodeh juga boleh.

Kamis, 03 November 2011

Letak Rm.makan

Rindu Alam Restaurant (Restoran Rindu Alam, Jalan Raya Puncak) is located at Puncak (peak or summit in Indonesian), which is literally that, the highest point (the pass), roughly half way (60 miles) between Jakarta and Bandung on the mountainous road across the extinct volcano Gunung Gede (Big Mountain), past the well known Taman Safari (Safari Park) at Cisarua. Thus, it is quite far from Bogor (the address indicated on TripAdvisor), being nearer to Pacet and Cipanas. This route is different from the more recent, faster and better motorway to the North that links Jakarta and Bandung. Rindu Alam straddles the edge of the pass with a sweeping and dramatic view across the terraced fields and tea gardens that are located on the slopes. The restaurant is designed such that there is a view from most of the tables, but the ones on the deck at the edge are the best. On a clear day the view is truly amazing, and worth the trip on its own.

Rindu Alam is a typical Sundanese (West Java) eating house that serves only local cuisine- unpretentious but delicious. However, the menu is diverse, not very spicy as cooked (spiced according to taste using appropriate sauces placed on table), should suit any palate and comes with English translation. Even for people completely ignorant about Indonesian food, it should not be difficult to pick from items like fried or barbequed choice of fish (ikan goreng, ikan bakar), fried or barbequed chicken (ayam goreng, ayam bakar), sates, squid, freshly fried chips, various omelettes and vegetable preparations, etc. There are a number of soup and noodle options also. An item worth a try is sayur asem, a typical sweet/sour soup prepared using a tamarind base and containing pieces of corn, bread fruit and other vegetables and a combination of indigenous herbs and nuts. Considering the ambience, the food goes down well with the cold, cold Bintang beer (local) that they serve, and even after numerous visits to this place we are still happy to brave the (sometimes bad traffic) to drop in again when the opportunity arises.